21.40
Tema keindahan Islam sangat luas, panjang lebar sulit untuk
diringkas dengan bilangan waktu yang tersisa. Sebelumnya, yang perlu kita
ketahui adalah firman Allah.
إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللّهِ الإِسْلاَمُ“Sesungguhnya
agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (Qs. Ali Imran: 19)
Juga
firman-Nya.وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِيناً فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ“Barang
siapa yang mencari selain Islam sebagai agama, maka tidak akan diterima.” (Qs. Ali Imran: 85)
Jadi,
agama yang dibawa oleh para nabi dan menjadi sebab Allah mengutus para rasul
adalah dienul Islam. Allah mengutus para rasul untuk mengajak agar orang
kembali kepada Allah. Para rasul datang untuk memperkenalkan Allah. Barang
siapa menaati mereka, maka para rasul akan memberikan kabar gembira kepadanya.
Adapun orang yang menentangnya, maka para rasul akan menjadi peringatan
baginya. Para rasul diperintahkan untuk menegakkan agama di dunia ini.Allah
berfirman.شَرَعَ لَكُم مِّنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحاً وَالَّذِي
أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ
أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ مَا
تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ اللَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَن يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ
مَن يُنِيبُ“Dia
telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan kepada
Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan
kepada Ibrahim, Musa dan Isa, yaitu ‘Tegakkan agama dan janganlah kamu berpecah
belah tentangnya.’ Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru
kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan
memberi petunjuk kepada (agama)Nya orang yang kembali (kepada)-Nya.” (Qs. Asy-Syura: 13)
Islam
adalah agama yang dipilih Allah untuk makhluk-Nya. Agama yang dibawa Nabi
merupakan agama yang paripurna. Allah tidak akan menerima agama selainnya. Jadi
agama ini adalah agama penutup, yang dicintai dan diridhaiNya.Allah
berfirman.يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَن يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَن يُنِيبُ“Allah
menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada
(agama)-Nya orang yang kembali (kepada)-Nya.” (Qs. Asy-Syura: 42)
Sebagian
ahli ilmu mengatakan, Sebelumnya aku mengira bahwa orang yang bertaubat kepada
Allah, maka Allah akan menerima taubatnya. Dan orang yang meridhoi Allah,
niscaya Allah akan meridhoinya. Dan barang siapa yang mencintai Allah, niscaya
Allah akan mencintainya. Setelah aku membaca Kitabullah, aku baru mengetahui
bahwa kecintaan Allah mendahului kecintaan hamba pada-Nya dengan dasar ayat,يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ“Dia
mencintai mereka dan mereka mencitai-Nya.” (Qs. Al Maaidah: 54)
Ridha
Allah kepada hambaNya mendahului ridha hamba kepada-Nya dengan dasar ayat,رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ“Allah
meridhoi mereka dan mereka meridhoi-Nya.” (Qs. At-Taubah: 100)
Dan aku
mengetahui bahwa penerimaan taubat dari Allah, mendahului taubat seorang hamba
kepada-Nya dengan dasar ayat,ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ لِيَتُوبُواْ إِنَّ“Allah
menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya.” (Qs. At-Taubah: 118)
Demikianlah,
bila Allah mencintai seorang manusia, maka Dia akan melapangkan dadanya untuk
Islam. Dalam Shahihain, dari Abu
Hurairah, ia berkata, Rasulullah bersabda. “Demi Zat yang jiwaku berada di
tangan-Nya. Tidak ada seorang Yahudi dan Nasrani yang mendengarku dan tidak
beriman kepadaku, kecuali surga akan haram buat dirinya.” (Hadits Riwayat Muslim)Karena
itu, agama yang diterima Allah adalah Islam. Umat Islam harus menjadikannya
sebagai kendaraan. Persatuan harus bertumpu pada tauhid dan syahadatain. Islam
agama Allah. Kekuatannya terletak pada Islam itu sendiri. Allah menjamin
penjagaan terhadapnya.Allah
berfirman,إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ“Sesungguhnya
Kami-lah yang menurunkan Al Quran dan sesungguhnya Kami benar-benar
memeliharanya.” (Qs.
Al-Hijr: 9)
Sedangkan
agama selainnya, jaminan ada di tangan tokoh-tokoh agamanya.Allah
berfirman.بِمَا اسْتُحْفِظُواْ مِن كِتَابِ اللّهِ“Disebabkan
mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab.” (Qs. Al Maaidah: 44)
Kalau
mereka tidak menjaganya, maka akan berubah. Ia bagaikan sesuatu yang mati.
Harus digotong. Tidak dapat menyebar, kecuali dengan dorongan sekian banyak
materi. Sedangkan Islam pasti tetap akan terjaga. Karena itu, masa depan ada di
tangan Islam. Islam pasti menyebar ke seantero dunia. Allah telah
menjelaskannya dalam Al Quran, demikian juga Nabi dalam Sunnahnya. Kesempatan
kali ini cukup sempit, tidak memungkinkan untuk menyebutkan seluruh dalil. Tapi
saya ingin mengutip sebuah ayat.مَن كَانَ يَظُنُّ أَن لَّن يَنصُرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا
وَالْآخِرَةِ فَلْيَمْدُدْ بِسَبَبٍ إِلَى السَّمَاء ثُمَّ لِيَقْطَعْ فَلْيَنظُرْ
هَلْ يُذْهِبَنَّ كَيْدُهُ مَا يَغِيظُ“Barang
siapa yang menyangka bahwa Allah sekali-kali tidak menolongnya (Muhammad) di
dunia dan akhirat, maka hendaklah ia merentangkan tali ke langit, kemudian
hendaklah ia melaluinya kemudian hendaklah ia pikirkan apakah tipu dayanya itu
dapat melenyapkan apa yang menyakitkan hatinya.” (Qs. Al-Hajj: 15)
Dalam
Musnad Imam Ahmad dari sahabat Abdullah bin Amr, kami bertanya kepada Nabi, “Kota
manakah yang akan pertama kali ditaklukkan? Konstantinopel (di Turki) atau
Rumiyyah (Roma)?”Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Konstantinopel-lah
yang akan ditaklukkan pertama kali, kemudian disusul Rumiyyah.” Yaitu Roma yang terletak di Italia.
Islam pasti akan meluas di seluruh penjuru dunia. Pasalnya, Islam bagaikan
pohon besar yang hidup lagi kuat, akarnya menyebar sepanjang sejarah semenjak
Nabi Adam hingga Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.Islam
adalah agama (yang sesuai dengan) fitrah. Kalau
anda ditanya, bagaimana engkau mengetahui Robb-mu. Jangan engkau jawab, “dengan
akalku,” tapi
jawablah, “dengan fitrahku.”Oleh
karena itu, ketika ada seorang atheis yang mendatangi Abu Hanifah dan meminta
dalil bahwa Allah adalah Haq (benar), maka beliau menjawab dengan dalil fitrah. “Apakah
engkau pernah naik kapal dan ombak mempermainkan kapalmu?” Ia menjawab, “Pernah.” (Abu Hanifah bertanya lagi),“Apakah engkau merasa akan tenggelam?” Jawabnya, “Ya.” “Apakah
engkau meyakini ada kekuatan yang akan menyelamatkanmu?” “Ya,” jawabnya. “Itulah
fitrah yang telah diciptakan dalam dirimu. Kekuatan ada dalam dirimu itulah
kekuatan fitrah Allah. Manusia mengenal Allah dengan fitrahnya. Fitrah ini
terkandung dalam dada setiap insan. Dasarnya hadits Muttafaq ‘Alaih. Nabi
bersabda: “Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah
yang menjadikannya Yahudi, Nashrani atau Majusi.”Akal
itu sendiri bisa mengetahui bahwa Allah adalah Al-Haq. Namun ia secara mandiri
tidak akan mampu mengetahui apa yang dicintai dan diridhoi Allah. Apakah
mungkin akal semata saja dapat mengetahui bahwa Allah mencintai sholat lima
waktu, haji, puasa di bulan tertentu? Karena itu, fitrah itu perlu dipupuk
dengan gizi yang berasal dari wahyu yang diwahyukan kepada para nabi-Nya.Sekali
lagi, nikmat dan anugerah paling besar yang diterima seorang hamba dari Allah
ialah bahwa Allah-lah yang memberikan jaminan untuk menetapkan syariat-Nya.
Dialah yang menjelaskan apa yang dicintai dan diridhaiNya. Inilah nikmat
terbesar dari Allah kepada hamba-Nya. Bila ada orang yang beranggapan ada
kebaikan dengan keluar dari garis ini dan mengikuti hawa nafsunya, maka ia
telah keliru. Sebab kebaikan yang hakiki dalam kehidupan ini maupun kehidupan
nanti hanyalah dengan menaati seluruh yang datang dari Kitab Allah dan Sunnah
Rasul-Nya.Syariat
Islam datang untuk menjaga lima perkara. Allah telah mensyariatkan banyak hal
untuk menegaskan penjagaan ini. Islam datang untuk menjaga agama. Karena itu,
Allah mengharamkan syirik, baik yang berupa thawaf di kuburan, istighatsah
kepada orang yang dikubur serta segala hal yang bisa menjerumuskan ke dalam
syirik, dan mengharamkan untuk mengarahkan ibadah, apapun bentuknya, (baik)
secara zahir maupun batin kepada selain Allah. Oleh sebab itu, kita harus
memahami makna ringkas syahadatain yang kita ucapkan.Syahadat “Laa
Ilaaha Illa Allah”, maknanya: tidak ada sesembahan yang berhak
disembah kecuali Allah, ibadah hanya milik Allah. Ini bagian dari pesona agama
kita. Allah mengharamkan akal, hati dan fitrah untuk melakukan peribadatan dan
istijabah (ketaatan mutlak) kepada selain-Nya. Sedangkan makna syahadat “Wa
asyhadu anna Muhammadar Rasulullah”, (yakni) tidak ada orang yang
berhak diikuti kecuali Muhammad Rasulullah. Kita tidak boleh mengikuti rasio,
tradisi atau kelompok jika menyalahi Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah. Maka
seorang muslim, di samping tidak beribadah kecuali kepada Allah, juga tidak
mengikuti ajaran kecuali ajaran Rasulullahshallallahu
‘alaihi wa sallam. Ia tidak mengikuti ra’yu keluarga, ra’yu kelompok, ra’yu jama’ah, ra’yutradisi
dan lain-lain jika menyalahi Al Quran dan Sunnah.Dakwah
Salafiyah yang kita dakwahkan ini adalah dinullah yang suci dan murni, yang
diturunkan oleh Allah pada kalbu Nabi. Jadi dalam berdakwah, kita tidak
mengajak orang untuk mengikuti kelompok ataupun individu. Tetapi mengajak untuk
kembali kepada Al Quran dan Sunnah. Namun, memang telah timbul dakhon
(kekeruhan) dan tumbuh bid’ah. Sehingga kita harus menguasai ilmu syar’i. Kita
beramal (dengan) meneladani ungkapan Imam Malik, dan ini, juga perkataan Imam
Syafi’i, “Setiap orang bisa diambil
perkataannya atau ditolak, kecuali pemilik kubur ini, yaitu Rasulullah.”Telah
saya singgung di atas, agama datang untuk menjaga lima perkara. Penjagaan agama
dengan mengharamkan syirik dan segala sesuatu yang menimbulkan akses ke sana.
Kemudian penjagaan terhadap badan dengan mengharamkan pembunuhan dan gangguan
kepada orang lain. Juga datang untuk memelihara akal dengan mengharamkan
khamar, minuman keras, candu dan rokok. Datang untuk menjaga kehormatan dengan
mengharamkan zina, percampuran nasab dan ikhtilath(pergaulan
bebas). Juga menjaga harta dengan mengharamkan perbuatan tabdzir (pemborosan) dan gaya hidup hedonisme.
Penjagaan terhadap kelima perkara ini termasuk bagian dari indahnya agama kita.
Syariat telah datang untuk memerintahkan penjagaan terhadap semua ini. Dan
masih banyak perkara yang digariskan Islam, namun tidak mungkin kita paparkan
sekarang.Syariat
telah merangkum seluruh amal shahih mulai dari syahadat hingga menyingkirkan
gangguan dari jalan. Karena itu tolonglah jawab, kalau menyingkirkan gangguan
dari jalan termasuk bagian dari keimanan, bagaimana mungkin agama memerintahkan
untuk mengganggu orang lain, melakukan pembunuhan dan peledakan? Jadi, ini
sebenarnya sebuah intervensi pemikiran asing atas agama kita. Semoga Allah
memberkahi waktu kita, dan mengaruniakan kepada kita pemahaman terhadap
Kitabullah dan Sunnah Nabi dengan lurus. Dan semoga Allah memberi tambahan
karunia-Nya kepada kita. Akhirnya, kami ucapkan alhamdulillah
Rabbil ‘Alamin.[Diambil
dari situs almanhaj.or.id yang disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun
VIII/1425H/2005M rubrik Liputan Khusus yang diangkat dari ceramah Syaikh
Masyhur bin Hasan Alu Salman Tanggal 5 Desember 2004 di Masjid Istiqlal
Jakarta]***Penulis:
Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman hafizhahullah
0 komentar:
Posting Komentar